“hai…” kata Dea yang mencoba mendekatinya. menyentuhnya namun lelaki tersebut semakin menjauh. Ia pun mendekatinya lagi "haii.." orang itu pun berbalik dan melihat Ia yang terpaku. Lelaki itu semakin lama semakin menjauh.
"Didinnnnnnn!" Tiba-tiba ia memanggil sebuah nama melengking, keras. Namun kemudian hilang ditelan parau. Ia sadar bahwa lelaki itu adalah saudara kembarnya yang meninggal 3 tahun lalu. Ia jadi teringat tragedi 3 tahun lalu yang membuat saudara kembarnya itu meninggal. Pada saat itu Ia memaksa ayahnya untuk mengajarinya mengendarai mobil. Didin serta ayahnya ikut menemaninya. Karena Ia kurang menguasai dalam hal mengendarai mobil, maka kecelakaan pun terjadi. Ia dan Ayahnya hanya luka ringan, sedangkan saudara kembarnya Didin meninggal karena mengalami luka yang berat.
Tok tok tok
"Siapa itu?" Kata Dea yang sedang mencoba menenangkan diri
"Ini ayah , sayang" jawab orang dari balik pintu tersebut
"Masuklah, yah" kata Dea , kemudian melirik kearah jam yang menunjukkan pukul 03.00 itu.
"Kamu kenapa berteriak tadi nduk?" Tanya ayah khawatir.
"Aku masih teringat dengan didin yah, aku sangat menyesal andai saja dulu aku tidak ngotot untuk belajar mengendarai mobil, pasti didin sekarang masih hidup." Isak Dea.
"Kematian Didin bukan kesalahan km nduk, itu memang sudah takdir dari Allah, dan kita harus mengikhlaskannya." kata ayah membelai rambut pendek Dea.
"Tapi tetap saja yah, didin meninggal karena dia berada didalam kecelakaan mobil yang dulu aku kendarai, aku kangen didin yah." Kata Dea sambil memeluk ayahnya erat.
"Ikhlaskanlah nduk, sekarang kita sholat tahajud saja yuk, agar kamu bisa tenang sekalian mendoakan kakak kamu agar dia tenang di alam sana."
"Baik yah." Kata Dea sambil beranjak dari tempat tidur.
Alinea diperhatikan. Setiap awal dialog, setelah petik harus kapital. Penulisan nama orang harus konsisten (kapital)
BalasHapus